Si Sulung dan Si Bungsu (Bagian Satu)



Si Sulung Dan Si Bungsu
Oleh : Ismail syakban, S.Pd.I Al-Minang Kabawy

Pertama, Sulung dan bungsu
Pada suatu desa di Sulit Air, hiduplah suatu keluarga yang sederhana, keluarga yang tinggal di desa Linawan Ilir itu terdiri dari ayah, ibu, dan dua anaknya (Bungsu dan Sulung) keluarga ini hidup dengan sederhana, bahagia, damai dan tentram. Kehidupan sehari-hari keluarga ini juga sederhana, ayah yang kesehariannya menghabiskan waktu untuk ke ladang yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya dan ibu membantu-bantu ayah kesawah dan keladang. Sedangkan si Bungsu dan si Sulung masing-masing berumur enam (6) dan delapan (8) tahun, sekarang si Sulung duduk di bangku kelas 1 SDN 14 Ganting Dodok Sulit Air, dan si Bungsu masih mengikuti ibu dan ayah kesawah dan keladang, setiap sepulang sekolah si sulung menghabiskan waktu untuk mengembala si Pengka (nama kambingnya).
Dari hari ke hari keluarga yang sederhana ini hidup dengan bahagia tanpa ada masalah, sang bapak mengajarkan anaknya menjadi anak yang shaleh, baik, suka menolong, dan juga kedua orang tua ini memesankan kepada anaknya agar meneruskan pendidikan sampai sekolah yang setinggi-tingginya, meski apapun yang terjadi.
“Nak…hanya kalian yang akan melanjutkan perjuangan ibu/bapak kalian ini, seandainya nanti ibu/bapak telah tiada, kalian harus bisa jaga diri kalian sendiri, mandiri dan ibadah jangan kalian tinggalkan sekolah dan usahakanlah untuk melanjutkan sekolah, agar kalian menjadi orang yang berguna bagi orang banyak..” Itulah bunyi pesan yang dikatakan oleh sang ayah kepada si sulung yang masih berumur 8 tahun  itu.
“emangnya ibu dan bapak mau kemana??” jawaban si Sulung
“ibu dan bapak tidak akan kemana-kemana, insyaAllah ibu dan bapak akan selalu bersama kalian,,” Sambil memeluk si sulung ibu berkata demikian yang diiringi dengan curahan air mata, tak lama kemudian sang ayah menambahkan :
“sulung, kamu yang harus merawat dan menjaga adikmu…”
“nanti kalau ibu/bapak pergi, sulung dan bungsu jangan ditinggalkan ya..!!” itulah jawaban dari anak yang belum terlalu paham terhadap kata-kata orang tuanya itu.
Waktupun telah larut malam, waktunya si sulung tidurpun sudah datang, si ibu mendendangkan si sulung dengan lagu dan suara yang merdu, sehingga si sulung tertidur disebelah si bungsu, dengan penuh kasih sayang ibu mencium kedua anaknya kemudian ibupun tidur karena sudah kecapekan seharian bekerja diladang bersama ayah.
Malamnya, keluarga itupun tertidur lelap pulas, jarum jam terus berputar, sampailah pada waktu subuh ibu lebih dahulu bangun dan memasak nasi serta mempersiapkan sarapan pagi untuk anak dan suaminya. Dari kubah mesjid Baitullah yang tinggi dan jauh terdengar suara azan subuh berkumandang, sang ibupun membangunkan kedua anak dan suaminya untuk melakukan shalat subuh secara berjamaah. Setelah shalat subuh si sulung dan si bungsu mencium kedua tangan orang tuanya dan tak lupa ibu Munah juga mencium tangan suaminya, karena kebiasaan itulah yang membuat keluarga itu selalu hidup bahagia, damai, dan sejahtera.
Sambil menunggu waktu untuk bersiap-siap beraktifitas sang ayah mengajarkan kedua anaknya membaca Al-qur’an, sedangkan ibu menghidangkan masakan yang telah dibuatnya subuh-subuh tadi sebelumnya. Matahari pagi sudah mulai menampakkan dirinya, ibupun mulai mengurusi si sulung yang akan berangkat sekolah dan ayah hanya duduk sambil menikmati secangkir kopi buatan istri tercinta berdua dengan si bungsu.
Waktunya untuk sarapan pagi telah datang, dengan lahap si sulung makan masakan ibu Munah, sedangkan ayah dan sibungsu mengambil satu piring berdua karena sibungsu tidak mau makan kalau tidak berdua dengan sang ayah. Setelah sarapan pagi selesai si sulung berangkat sekolah dan tak lupa mencium tangan kedua orang tuanya.
“buk,, ayah,, saya berangkat sekolah ya…” sambil mencium tangan ayah dan ibunya.
“hati-hati ya nak, jangan nakal dan belajar yang rajin ya….” Pesan sang ibu.
“oh ya.. lung,, nanti jangan lupa gembalakan kambingmu ya……”
“ya ayah…..” ulung berangkat ya… “Assalamu’alaikum…..”
 “Wa’alaikumussalam….” Jawab kedua orang tua itu.
Setelah keberangkatan si sulung kesekolah, ibu dan ayah juga berkemas-kemas untuk pergi keladang, si bungsupun tidak ketinggalan untuk mengemaskan dirinya, si bungsu malah lebih dulu memasang topi, baju yang panjang lengannya dan telah memasang sandalnya serta telah menunggu didepan pintu.
Ibu Munah dan ayah telah selesai berkemas dan siap berangkat keladang, ibu Munah telah membungkus nasi, sambal dan tidak lupa mukenah untuk shalat karena berangkat pagi dari rumah pulangnya nanti sore saja. Makanya kalau mencari ibu Munah atau suaminya kerumahnya siang hari tidak akan bertemu, tapi kalau dilihat malam atau pagi sekali mereka pasti dirumah, jadi kalau tidak ada dirumah lihat keladang pasti ada.
Dalam perjalanan keladang, sibungsu bertanya pada ibunya..
mandeh… ambo bilo sekolah??” (buk… aku kapan sekolah??)
yuang… bungsu masih ketek baru, umua buyuang alun cukuik untuk masuak sekolah lo..” (nak… kamu masih kecil, umurmu belum cukup untuk masuk sekolah)
tapi buyuang nio sakolah lo caka uda ulung…” (tapi aku juga pengen sekolah seperti kak sulung)
iyo.. lai tau mandehnyo, tahun bisuak buyuang masuak sakolah yo.. jadi buyuang bisuak pai samo uda ulung yo… kini buyuang ikuik jo mandeh ajo dulu, tolong mandeh jo abak karajo di ladang yo nak..” (iya.. ibu ngerti kok, tahun besok kamu masuk sekolah ya.. jadi besok itu kamu berangkat bareng kakakmu, sekarang kamu ikut ibu saja dulu, tolong ibu dan ayah kerja diladang ya..)
asyik,,, awak sakolah. . . . . . “ (asyik… kita sekolah) dengan perasaan senang.
Itulah kata bungsu pada ibunya saking tidak sabar pengen masuk sekolah, setelah mendengar jawaban dari ibunya itu si bungsu senang sekali.
Tanpa terasa perjalananpun berakhir dan sampai di tujuan, ibu Munah dan si bungsu sampai di ladang dan mulai melubangi kalang yang akan ditanami kacang panjang, sedang sang ayah masih diperjalanan sambil menyandang cangkul di bahunya.
Jarum jam terus berputar, waktu terus berlalu tak terasa jam telah menunjukkan pukul 08.20 WIB, waktu segitu adalah waktu si sulung memasuki pelajaran sesi kedua di sekolah. Si sulung di sekolah sangat disayangi oleh guru, sulung rajin belajar dan selama dalam proses belajar nilainya paling tinggi terus, si sulung pinter dalam berhitung (penjumlahan dan pengurangan) sehingga setiap pertanyaan guru bisa dijawabnya dengan benar. Dalam masalah struktur keluarga si sulung juga jauh berbeda dengan murid-murid lainnya. Sulung berasal dari keluarga miskin yang keseharian dari orang tuanya adalah keladang dan kesawah. Berbeda dengan murid-murid yang lainnya, mereka berasal dari keluarga konglomerat, kelurga kaya sehingga mereka kesekolah memakai pakaian yang bagus, sedangkan si sulung berpakaian jelek, kusam dan sebenarnya pakaian yang tak layak untuk dipakai, tapi meskipun demikian otak si sulung disekolah sangat layak untuk dipakai serta si sulung tetap semangat untuk sekolah meski keadaannya demikian.
Meski keadaan sulung demikian, sulung tidak pernah pilih-pilih dalam mencari teman. Meskipun orang miskin atau kaya dimata sulung semua itu sama adalah sahabatnya semua dan teman-temannyapun juga seperti itu tidak pernah pilah-pilih dalam mencari teman. Si sulung karena kepintaran dan kebaikan hatinya, dia disenangi guru, teman-teman, ibu kantin dan masyarakat tak lupa orang tuanya sendiri.
Pada waktu bel pulang telah berbunyi semua muridpun berhamburan keluar kelas dan pulang kerumah masing-masing, dalam keasyikan berjalan sendiri si sulung dihampiri oleh dua orang temannya yang bernama Rizki dan Zainal.
Lung,, ang lansuang baliak?” (lung,, kamu lansung pulang?) Tanya Riki
iyo,, ambo torui baliak, ambo nak ngaluaan kambiang lansuang kabalo di ladang mandeh ambo….. mang baa duh?” (iya,, saya terus pulang kerumah, saya mau ngeluarin kambing dan saya mau gembalakan di ladang ibu saya…. Memangnya ada apa?)
Mendengar jawaban si sulung, zainal mengajak si sulung untuk melakukan sesuatu.
pai baronang wak yok!!” (berenang yuk!!)
baronang,,??kalian nio baronang dimaa??” (berenang,,??kalian mau berenang dimana??)
dibuak Nona, itu dibawah sakolah wak tu ha, tompek jalan ka Alai tu..” (di lubuk Nona, yang tempatnya dibawah sekolah kita itu, tempatnya di jalan menuju ke Alai itu loh..) Riki menjelaskan kepada si sulung.
oh… lubuak itu,,,,,, tapi ambo dak bisa ikuik loh, kalian ajo yang pai yo, ambo harus copek baliak, nak ngaluaan kambiang ambo, sory yo, kanlai dak baa lo kan??” (oh,, lubuk itu, tapi aku gak bisa ikut, kalian aja yang pergi aku harus lansung pulang harus mengeluarkan kambingku, maaf ya,,,, gak apa-apakan??)
yo,,, dak baa lo…..” (ya,, gak apa-apa kok..)
Setelah percakapan itu selesai sisulung meninggalkan Riki dan Zainal yang akan pergi berenang ke lubuak nona. Sulungpun lansung pulang kerumah, sesampai dirumah sisulung mengganti baju dan lansung membawa si pengka (kambingnya) keladang.
Seperti itulah kegiatan sisulung setiap hari, menghabiskan waktu setelah sekolah dengan gembala kambing. Sulung tidak pernah membantah dan melanggar kata-kata atau perintah dari kedua orang tuanya. Setelah melepaskan ikatan kambing dikandang, sisulung mengiringi kambingnya keladang.
“ussssss,,,, ussssss,,,,, ussssss,,,,,,”
“mbeeeeek,,, mbeeeeeek,,, mbeeeeek,,”
Setiap kambing dikeluarkan dia pasti jawab-jawaban dengan sulung, setiap sulung bilang “ussss,,,,”, sikambing menjawab “mbeeeek,,,,” sulung terus berjalan mengikuti lenggak lenggoknya kambing. Ketika sedang asyiknya menanam kacang, diladang ibu munah mendengarkan suara kambing, berarti sulung akan datang dengan kambingnya.
“pak, tuh sulung lah tibo jo kambiangnyo ha,,,” (pak,, itu sulung sudah datang sama kambingnya)
“suruah kobek an kambiangnyo tuh suruah nyo baronti  luh,, mungkin nyo tadi dirumah dak makan” (suruh talikan kambingnya, terus suruh dia istirahat dulu, mungkin dia tadi tidak makan dirumah)
Jawaban dari bapak sekaligus menyuruh istirahat si sulung, dan ajak makan bersama tapi biasanya sebelum makan, azan zhuhur pasti berkumandang. Dari jarak  yang lumayan jauh, dari lereng bukit ibu munah teriak kepada anaknya
“lung,,, lung,,, kobek an kambiang ang disitu ha,,, tu kamari lang,,” (lung,, lung,, ikatkan kambing disana, terus lansung kesini) teriak ibu pada sulung sambil menunjuk pada sawah yang kosong tempat mengikatkan kambingnya.
“yo,,, jadi” jawab sulung dengan suara teriak juga. (ya,, buk,,)
Sulungpun melakukan perintah dari ibunya, setelah selesai sulung menghampiri tempat pemberhentian itu, ayah dan sibungsu sudah menunggu disana. Sesampainya sisulung disana,,
“Assalamu’alaikum” sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
“wa’alaikum salam” jawab kedua orang tuanya.
Belum lama setelah sampai sisulung, terdengarlah suara azan dari kubah mesjid Darul Hikmah Lokuak, azan yag dikumandangkan oleh garim mesjid yang bernama Rusdi Arif. Sang ayahpun mengajak anak dan istrinya shalat berjamaah, dan ibupun mengajak kedua anaknya berwudhu, kemudia disusul oleh ayah. Merekapun melaksanakan shalat jamaah ditempat pemberhentian itu, akhirnya dari shalat jamaah mereka lanjutnya dengan makan siang bersama.
0------------0OOO0-----------0

0 komentar

Tambahkan Komentar Anda